Wanita Punya Hak Merencanakan Kehamilan. Ini 5 Alasannya!

Di bulan-bulan awal pernikahan Anda, pasti tidak hanya satu-dua kali Anda mendengar saran atau anjuran untuk segera hamil dan tidak menunda untuk memiliki buah hati. Ya, bisa segera hamil setelah tak lama menikah, atau langsung menambah jumlah anak setelahnya terkadang terasa sebagai suatu “tuntutan” untuk semua wanita.

Memiliki rahim memang merupakan salah satu kodrat wanita. Namun, sebenarnya wanita pun berhak untuk memilih dan merencanakan kehamilannya tanpa ditekan oleh siapa pun, termasuk suami dan anggota keluarganya sendiri.

Pada kenyataannya, masih banyak wanita yang tak menyadari bahwa dirinya memiliki hak atas tubuh mereka sendiri. Padahal, merencanakan kehamilan sangat penting, lho. Ini 5 alasannya!

1. Hak Reproduksi = Hak Asasi

Tahukah Anda bahwa konferesi internasional tentang kependudukan dan pembangunan (ICPD) telah menegaskan bahwa hak reproduksi adalah merupakan bagian dari hak asasi manusia? Bahkan, International Planned Parenthood Federation (IPPF) pada tahun 1996 merumuskan 12 hak-hak reproduksi yang di antaranya meliputi hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi termasuk kehidupan seksual dan reproduksinya, hak untuk memutuskan kapan mempunyai anak, hingga hak untuk bebas dari risiko kematian karena kehamilan.

Memang dalam perencanaan kehamilan Anda dan pasangan tetap harus saling terbuka dan berdiskusi, namun keputusan akhirnya tetap merupakan hak wanita. Karena itu, jangan ragu untuk berani bersuara, memutuskan, dan menyatakan pilihan Anda, ya.

2. Memelihara Kesehatan

Kehamilan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dijalani. Kehamilan yang tidak direncanakan dengan baik dapat menimbulkan berbagai risiko, baik bagi ibu maupun bayinya. Merencankan kehamilan dapat membantu sang ibu untuk mengidentifikasi kesehatan sejak dini, termasuk menyiapkan kondisi tubuh yang sehat sebagai upaya untuk menjaga kualitas janin, mengurangi risiko cacat bawaan pada anak, serta penyakit berbahaya lainnya, baik bagi ibu dan janin.

Merencanakan kehamilan berikutnya pun merupakan hak setiap wanita. Karena jarak antar kehailan yang terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) bisa meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah, lahir prematur, hingga kematian pada bayi.

3. Kasih Sayang yang Optimal

Tak hanya kesehatan fisik, jika seorang wanita hamil dalam keadaan siap, tentunya ini akan menurunkan risiko adanya penolakan kehamilan atau ketidaksadaran bahwa dirinya hamil. Stres yang tinggi pada ibu saat hamil akan membahayakan dirinya sendiri, hingga membuat tumbuh kembang janin terhambat. Setelah Si Kecil lahir pun, kasih sayang antara ibu dan bayi kurang berkembang optimal dan mengakibatkan kondisi psikologis ibu baik anak jadi bermasalah.

Jika seorang wanita bisa mendapatkan haknya untuk menentukan kapan dirinya akan memiliki anak, tentu ia akan lebih siap dan bisa mencurahkan lebih banyak waktu dan perhatian untuk mendampingi Si Kecil termasuk memenuhi hak anak untuk mendapatkan ASI eksklusif, lebih mesra dengan pasangan, bahkan menikmati waktu berkualitas untuk dirinya sendiri. Secara tak langsung, hal ini juga bisa menciptakan rumah tangga yang harmonis.

4. Menyiapkan Keuangan dan Pendidikan

Memelihara kehamilan dengan baik hingga waktu bersalin tiba, bahkan merawat Si Kecil setelah lahir nantinya tentu memerlukan biaya yang tak sedikit. Sebagai calon ibu, tentu setiap calon ibu harus menyadari hal itu dan merencanakan kehamilannya dengan baik agar kondisi keuangan rumah tangga tidak terganggu.

Dengan perencanaan kehamilan yang baik, juga akan membantu Anda dan pasangan menyiapkan keuangan untuk pendidikan terbaik bagi Si Kecil kelak. Pendidikan berkualitas bagi anak pun akan lebih mudah terwujud.

5. Mewujudkan Mimpi untuk Mengembangkan Diri

Banyak wanita yang setelah menikah dan memiliki anak mulai tak mempedulikan dirinya sendiri, bahkan mengabaikan mimpi-mimpinya. Padahal, sama seperti pria, wanita berhak untuk mengembangkan dirinya dan mewujudkan cita-citanya.

Namun, dengan merencanakan kehamilan, Anda bisa menyusun rencana jangka panjang karir dan mengembangkan diri, menyiapkan diri untuk mengurus keluarga secara lebih optimal, dan tentunya, menjadi ibu yang bahagia.

Berita & Artikel Lain

Berita & Artikel Lain